Renungan Pentingnya Asuransi
September 28, 2009 by wiwit · 9 Comments
Ketika saya memutuskan untuk meninggalkan aktifitas mengajar dan berpindah ke asuransi saya memberitahukan hal ini pertama kali kepada seorang teman bernama Kusno, manajer penjualan agen kendaraan bermotor.
Saya sampaikan bahwa saya sekarang beralih profesi, dan dia senang mendengarnya. “Akhir-akhir ini saya sedang berpikir untuk membeli asuransi jiwa dan sekarang saya akan membelinya darimu,” kata Kusno.
Kusno menyambut kedatangan saya dengan baik. “Pak, tolong buatkan saya program yang menurutmu diperlukan dan bermanfaat buat saya serta keluargaku.” Saya pun segera menyusun sebuah rencana perlindungan untuk keluarga Kusno.
Setelah saya berikan program tersebut kepadanya dengan pesan agar dia segera menjalankan program ini, maka Kusno berjanji akan segera mempelajari dan memberi kabar secepatnya.
Keesokan harinya, Kusno mengatakan, “Pak, program yang kamu buat cukup bagus dan saya setuju. Tapi saya harus menunggu beberapa saat untuk membelinya. Saya mempunyai beberapa lembar saham. Jika saya mengeluarkannya sekarang, maka saya akan rugi. Saya yakin dalam beberapa saat nilainya akan naik. Dan setelah itu saya akan segera membelinya. Datanglah minggu depan, Pak.”
Hal ini berlangsung selama 6 minggu. Akhirnya hari Kamis saya bertemu dengan Kusno di rumahnya dan dia tersenyum dan berkata, “Pak, nilai saham saya akan naik. Saya akan segera menjualnya beberapa saat lagi. Temui saya hari Senin!”
Dengan perasaan lega, saya kembali ke kantor. Saya merasa telah menjual polis dengan nilai cukup besar.
Hari Senin tiba, saya segera menemuinya. Saya pun tiba di rumahnya, Namun saya sangat kaget, Kusno terlentang di dalam sebuah peti. Dia meninggal !!!
Rupanya hari Jumat, dia bekerja penuh. Sabtu pagi sakit dan instrinya berusaha menghubungi dokter. Ketika dokter tiba di rumahnya, terlambat, keadaan Kusno sudah cukup parah. Terjadi penyempitan dalam paru-parunya. Sabtu pagi itu Kusno meninggal. Melihat Kusno terbaring dalam peti, saya memahami makna dari asuransi. Berulang kali saya mengatakan, saya telah gagal, saya telah gagal, saya telah gagal.
Beberapa minggu setelah pemakaman, janda Kusno mulai menjual rumah yang dia tinggali bersama anak-anaknya. Tanpa penghasilan dari suami, mereka tidak mampu memenuhi segala kebutuhan hidup yang harus ditanggungnya. Dua anak laki-laki dititipkan kepada kakak kandungnya, sedangkan istrinya tinggal di luar kota dengan saudara perempuannya bersama dengan ketiga anak perempuannya.
Tidak ada yang mampu menggantikan asuransi. Karena itulah asuransi bagaikan sebuah obsesi bagi saya. Asuransi bagaikan keyakinan bagi saya. Siapapun yang saya jumpai, pasti akan saya minta untuk memiliki produk yang indah ini. Saya bersyukur kepada Tuhan, karena Dia telah menciptakan saya sebagai seorang Agen Asuransi.
Manfaat asuransi tidak bisa dirasa begitu kita “membeli”nya. Beda dengan makanan, minuman atau rokok sekalipun. Makanan sekali beli, makan, kerasa enaknya…langsung Mak Nyuus. Kalau kita bisa melihat masa depan atau yang akan terjadi, bisa tahu kapan kita masuk rumah sakit, kapan kita kecelakaan dan tahu saat kita akan meninggal, mungkin asuransi tidak dijajakan oleh para agen tetapi dijual bebas di mal-mal dan orang akan berbondong-bondong antri membelinya. “Duh besok gue kayaknya mau opname deh kena demam berdarah 10 hari, anterin gue beli asuransi yuk di Mall sana” atau “Pak Wit, beli asuransi enaknya dimana ya? saya besok mau mati nih, mau kasih warisan buat anak istri ku”. Ingat, Penyesalan selalu datang terlambat.
Prinsip bahwa asuransi adalah pengalihan resiko atas kejadian-kejadian yang berhubungan dengan jiwa kita, belum tertanam kuat. Kita rela bayar Rp 15 ribu rupiah buat parkir mobil berjam-jam di Mangga Dua karena berharap mobil kita aman, berada di lokasi yang kemungkinan kecil dicuri orang dibanding diparkir dekat Kebon Kacang. Rela bayar iuran keamanan kompleks untuk bayar satpam yang bertugas mengamankan rumah kita. Tapi kenapa untuk kesehatan dan jiwa diri sendiri nggak Ya?
Artikel terkait :
Perlunya Perlindungan Ketika Hidup di Dunia yang Penuh Resiko
Salam Cerdas
Wiwit Prayitno, S.Pt, N.Md











yups.. itulah tugas seorang agent asuransi pak..
cerita bapak mengilhami hidup saya, hampir serupa dengan saya, hanya saja ca-bah ( calon nasabah saya tidak meninggal tetapi dia terserang stroke…menyesl dengan hati yang galaw….orang2 asuransi itu hebat pak…menolong banyak orang nantinya, hanya saja orang2 yang akan kita tolong belum memahami PENTING NYA asuransi…banyak kasus orang kaya jadi miskin karena sakit atau tidak bisa mengelola keuangan dengan bijak..selain itu gaya hidup sama dengan biaya hidup yang tidak akan berkurang setiap tahun nya…malahan semakin mencekik leher sebagaian orang….sukses pak.
Hiks…sedih amat ceritanya pak
btw saya agent baru nih di asuransi…
mendengar cerita ini, saya jadi terinspirasi..terima kasih pak sharingnya.
Terima kasih, Benar-benar cerita yg sangat Luar biasa. Smoga dpt meng-Inspirasi seluruh agen asuransi agar tetap Semangat…..tunjukan bahwa tugas kita sangat mulia….SALAM SUKSES !!!!
Salam Sukses selalu.
Saya sangat setuju dengan asuransi, walaupun keluarga saya belom sepenuhnya memilih asuransi sebagai jalan keluar yang terbaik.. Asuransi bukan saja untuk kalangan hartawan, tapi juga membantu keluarga yang memang kurang mampu.. Pilihlah asuransi yang tepat dan terbukti dengan jaminannya…
Sukses Selalu!
pak minta ijin copy paste ya…
Okey. Monggo mbak Asnik. Minto tolong cantumkan sumber / linknya ya.
Makasih
sy sgt setuju terhadap pentingnya asuransi…sy diselamatkan asuransi